Lutung Kasarung
Prabu Tapa Agung had led a kingdom in West Java for a long time. He was getting old and therefore wanted to choose a successor. But unfortunately, he had no son. He thought of choosing one of his daughters, Purbararang and Purbasari. But it wasn’t an easy choice. They were both very pretty and smart. The only difference was their temperament. Purbararang was rude and dishonest, while Purbasari was kind and caring. With those considerations, Prabu Tapa Agung finally chose Purbasari to be his successor.
Purbararang didn’t agree with her father’s decision. “It’s supposed to be me, Father. I’m the eldest daughter!” Purbararang said. Prabu Tapa Agung smiled. “Purbararang, to be a queen takes more than age. There are many other qualities that one must possess,” explained Prabu Tapa Agung wisely. “What does Purbasari have that I don’t?” Purbararang pouted. “You’ll find out when Purbasari has replaced me,” Prabu Tapa Agung answered.
After the discussion, Purbararang went back to her room. “Is there something wrong?” asked Indrajaya. Indrajaya is Purbararang’s future husband. “I’m upset! Father chose Purbasari as his successor and not me! I have to do something!” Purbararang said. Driven mad by her anger, she came to a witch and asked her to send rash all over Purbasari’s body. Before going to bed, Purbasari started to feel itch all over her body. She tried applying powder to her body, but it’s no use. Instead, the itching grew even worse. She didn’t want to scratch it, but she just couldn’t help it. In the next morning, there were scratch mark all over Purbasari’s body. “What happened to you?” asked Purbararang, pretending to be concerned. “I don’t know, sis. Last night, my body suddenly felt very itchy. I scratched and scratched, and this is what happened,” Purbasari answered. Purbararang shook her head. “You must have done something really awful. You’ve been punished by the gods!”
That day, the whole kingdom was scandalized. “What have you done, Purbasari?” demanded Prabu Tapa Agung. Purbasari shook her head. “I didn’t do anything that would upset the gods, Father,” she answered. “Then how can you explain what happened to your body?” Prabu Tapa Agung asked again. “If you don’t confess, I’ll banish you to the woods.” Purbasari took a deep breath. “Like I said before, I didn’t do anything wrong. And I’d rather be thrown into the woods than to confess to a deed I didn’t commit.”
After a short discussion with his advisor, Prabu Tapa Agung ordered Purbasari to be moved to the woods. Purbasari was very sad, but she couldn’t do anything to defy her father’s order. She was accompanied to the woods by a messenger. He built a simple hut for Purbasari. After the messenger left, suddenly a black monkey came to Purbasari’s hut. He carried a bunch of bananas. From behind him, some animals looked on. “Are the bananas for me?’ Purbasari asked. The black monkey nodded, as if he understood what Purbasari said. Purbasari took the bananas with pleasure. She also said thanks. The other animals that were looking on also seemed to smile. “Are you willing to be my friend?” Purbasari asked them. All the animals nodded happily. Although she was living by herself in the woods, Purbasari never lacked of supplies. Everyday, there were always animals bringing her fruits and fish to eat.
A long time had passed since Purbasari was banished to the woods, but her body still itched. At some places, her skin was even ulcerating. What am I supposed to do?” Purbasari sighed. The monkey who was sitting next to her stayed still, there were tears in his eyes. He hoped Purbasari would remain patient and strong.
One night, on a full moon, the monkey took Purbasari to a valley. There is a pond with hot spring water. The monkey suddenly spoke, “The water of this pond will heal your skin,” he said. Purbasari was surprised, ”You can talk? Who are you?” she asked. “You’ll find out, in time,” the monkey said. Purbasari didn’t want to force the monkey. She then walked to the pond. She bathed there. After a few hours, Purbasari walked out of the pond. She was shocked to see her face reflected on the clear pond water. Her face was beautiful again, with smooth and clean skin. Purbasari observed her entire body. There were no traces of any skin ailments. “I’m cured! I’m cured!” Purbasari shouted in joy. She quickly offered thanks to the gods and also to the monkey.
The news of Purbasari’s condition quickly spread to the kingdom, irritating Purbararang. She then accompanied by Indrajaya go to the woods to see Purbasari. Purbasari asked if she would be allowed to go home. Purbararang said she would let Purbasari return to the palace if Purbasari’s hair were longer than hers. Purbararang then let her hair down. It was so long, it almost touched the ground. But it turned out that Purbasari’s hair was twice longer than Purbararang’s hair.
“Fine, so your hair is longer than mine.” Purbararang admitted. “But there is one more condition you must fulfill, do you have a future husband who is handsomer than mine?” said Purbararang as she walked toward Indrajaya. Purbasari felt miserable. She didn’t have a future husband yet. So, without much thought, she pulled the black monkey beside her.
Purbararang and Indrajaya burst out, but their laughter didn’t last long. The monkey meditates and suddenly transformed into a very handsome young man, a lot more handsome than Indrajaya. “I’m a prince from a kingdom far away. I was cursed to be a monkey because of a mistake I committed. I could regain my true form only if there’s a girl who would be willing to be my wife,” said the young man.
Finally, Purbararang gave up. She accepted Purbasari as the queen, and also confessed everything she had done. “Please forgive me. Please don’t punish me,” Purbararang said, asking for forgiveness. Instead of being angry, Purbasari smiled. “I forgive you, sis,” she said. Soon after, Purbasari become queen. Beside her was the handsome prince, the former monkey known as Lutung Kasarung.
Senin, 25 April 2011
Minggu, 03 April 2011
Ac Milan vs Inter Milan
AC Milan berhasil memenangkan derby della madoninna sekaligus memperlebar jarak dengan Inter Milan di Seri A 2010/2011. Bertanding di Giuseppe Meazza, Rossoneri menang 3-0 atas Nerazzurri.
Dua gol Milan dicetak oleh Alexandre Pato, masing-masing pada menit ke-1 dan 62'. Inter Milan sendiri harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-54 bek andalannya Cristian Chivu dikartu merah oleh wasit.
Tambahan tiga poin membuat AC Milan semakin kokoh di puncak klasemen sementara Seri A 2010/2011 dengan koleksi 65 poin dari 31 laga. Sedangkan Inter menguntit di belakang dengan koleksi 60 poin.
Bertanding di Giuseppe Meazza, Milan langsung mengejutkan tim tamu lewat gol yang ditorehkannya Alexandre Pato pada menit ke-1. Pato berhasil menaklukkan kiper Inter, Julio Cesar usai mendapat umpan dari Robinho.
Tertinggal 0-1, Inter mencoba bangkit. Hasilnya, Samuel Eto'o cs berhasil menciptakan sederet peluang emas namun gagal berbuah gol. Hingga turun minum AC Milan masih memimpin atas Inter dengan skor 1-0.
Di babak kedua, Inter harus kehilangan salah seorang pemainnya Cristian Chivu. Pemain Inter asal Rumania itu dikartu merah wasit setelah melakukan pelanggaran kepada Alexandre Pato yang tinggal berhadapan dengan kiper Julio Cesar pada menit ke-54.
Unggul jumlah pemain, Milan semakin mendominasi jalannya laga. Pada menit ke-62, Alexandre Pato kembali berhasil menyarangkan gol ke gawang Nerazzurri memanfaatkan umpan dari Mathieu Flamini.
Robinho juga berkali-kali mengancam gawang Sayang tendangan pemain asal Brasil itu masih mampu diblok oleh kiper Inter Julio Cesar.
Milan kembali memperlebar jarak lewat penalti Antonio Cassano pada menit ke-90. Wasit menunjuk titik putih setelah Cassano yang berhasil melakukan penetrasi diganjal oleh pemain Inter Javier Zaenetti di kotak terlarang.
Gol ini dirayakan secara berlebihan oleh Cassano dengan membuka bajunya. Wasit pun mengganjarnya dengan kartu kuning. Casano akhirnya diusir wasit di masa injury time setelah mengantongi kartu kuning keduanya.
Meski jumlah pemain kembali imbang yakni 10 lawan 10 namun waktu yang tersisa menyulitkan Inter untuk mengejar ketertinggalannya atas Milan. Hingga pluit panjang dibunyikan Milan tetap memimpin 3-0 atas Inter.
Dua gol Milan dicetak oleh Alexandre Pato, masing-masing pada menit ke-1 dan 62'. Inter Milan sendiri harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-54 bek andalannya Cristian Chivu dikartu merah oleh wasit.
Tambahan tiga poin membuat AC Milan semakin kokoh di puncak klasemen sementara Seri A 2010/2011 dengan koleksi 65 poin dari 31 laga. Sedangkan Inter menguntit di belakang dengan koleksi 60 poin.
Bertanding di Giuseppe Meazza, Milan langsung mengejutkan tim tamu lewat gol yang ditorehkannya Alexandre Pato pada menit ke-1. Pato berhasil menaklukkan kiper Inter, Julio Cesar usai mendapat umpan dari Robinho.
Tertinggal 0-1, Inter mencoba bangkit. Hasilnya, Samuel Eto'o cs berhasil menciptakan sederet peluang emas namun gagal berbuah gol. Hingga turun minum AC Milan masih memimpin atas Inter dengan skor 1-0.
Di babak kedua, Inter harus kehilangan salah seorang pemainnya Cristian Chivu. Pemain Inter asal Rumania itu dikartu merah wasit setelah melakukan pelanggaran kepada Alexandre Pato yang tinggal berhadapan dengan kiper Julio Cesar pada menit ke-54.
Unggul jumlah pemain, Milan semakin mendominasi jalannya laga. Pada menit ke-62, Alexandre Pato kembali berhasil menyarangkan gol ke gawang Nerazzurri memanfaatkan umpan dari Mathieu Flamini.
Robinho juga berkali-kali mengancam gawang Sayang tendangan pemain asal Brasil itu masih mampu diblok oleh kiper Inter Julio Cesar.
Milan kembali memperlebar jarak lewat penalti Antonio Cassano pada menit ke-90. Wasit menunjuk titik putih setelah Cassano yang berhasil melakukan penetrasi diganjal oleh pemain Inter Javier Zaenetti di kotak terlarang.
Gol ini dirayakan secara berlebihan oleh Cassano dengan membuka bajunya. Wasit pun mengganjarnya dengan kartu kuning. Casano akhirnya diusir wasit di masa injury time setelah mengantongi kartu kuning keduanya.
Meski jumlah pemain kembali imbang yakni 10 lawan 10 namun waktu yang tersisa menyulitkan Inter untuk mengejar ketertinggalannya atas Milan. Hingga pluit panjang dibunyikan Milan tetap memimpin 3-0 atas Inter.
Minggu, 20 Februari 2011
Ini Dia 10 Pelatih Terbaik Dunia Tahun 2010 oleh admin on Monday, January 3rd 2011 Kategori: Sepakbola Dunia Tags: iffhs,
jose maurinho, josep guardiola, pelatih terbaik dunia 2010
Jose Mario dos Santos Felix Mourinho yang lebih dikenal dengan panggilan Jose Mourinho, yang kini melatih klub raksasa Spanyol, Real Madrid kembali terpilih untuk ketiga kalinya menjadi Pelatih Terbaik Dunia Tahun 2010. Pria kelahiran Setuba, Portugal berhasil mengumpulkan 294 suara pada pemilihan yang dilakukan oleh International Federation of Football and Statistik. Sebelumnya ia terpilih sebagai pelatih terbaik dunia pada tahun 2004 dan 2005.
Nama-nama tenar lainya yang masuk dalam 10 besar pelatih terbaik dunia tahun 2010 sebagian besar didominasi para pelatih dari daratan Eropa seperti Josep Guardiola, Van Gaal, Sir Alex Ferguson, Arsene Wenger, Carlo Ancelloti dan Roy Hodgson. Sedangkan dari Amerika Latin hanya 1 orang yaitu Celso Juares Roth (Brasil), pelatih klub SC Internacional Porto Alegre yang menempati posisi ke-8 dengan 20 suara. Afrikapun hanya diwakili oleh 1 orang pelatih yaitu Lamine N’Diaye di peringkat 10 dengan 11 suara. Lamine berhasil masuk dalam 10 besar setelah keberhasilanya mengantarkan TP Mazembe menjadi Runer Up Piala Dunia Antar Klub Tahun 2010. Sedangkan pelatih – pelatih terbaik dari benua Asia terlempar dari posisi 10 besar mereka adalah Tae Yong Shin (Korea Selatan) yang melatih klub Seongnam Ilhwa Chunma dan manour Ebrahimzadeh (Iran) yang melatih klub Zabohan,Isfahan masing-masing dengan 5 suara dan menempati peringkat 16 besar.
Berikut ini adalah daftar 1o Pelatih Terbaik Dunia Tahun 2010 versi IFFHS:
Jose Maurinho (294 suara). Asal Portugal, klub Inter Milan/Real Madrid.
Joseph Guardiola (188 suara). Asal Spanyol. Klub FC. Barcelona (Spanyol).
Louis Van Gaal (75 suara). Asal Belanda, klub Bayern Muenchen (Jerman).
Quique Sanches Flores (45 suara). Asal Spanyol, klub Atletico Madrid (Spanyol).
Carlo Ancelloti (41 suara). Asal Italia, klub Chelsea (Inggris).
Sir Alex Ferguson (38 suara). Asal Skotlandia, klub Manchester United (Inggris).
Arsene Wenger (33 suara). Asal Prancis, klub Arsenal (Inggris).
Celso Juares Roth (24 suara ). Asal Brasil, klub SC Internacional Porto-Alegre (Brasil).
Roy Hogson (20 suara). Asal Inggris, klub Fulham dan Liverpool (Inggris).
Lamine NDiaye (11 suara). Asal Senegal, klub TP Mazembe (Senegal).
jose maurinho, josep guardiola, pelatih terbaik dunia 2010
Jose Mario dos Santos Felix Mourinho yang lebih dikenal dengan panggilan Jose Mourinho, yang kini melatih klub raksasa Spanyol, Real Madrid kembali terpilih untuk ketiga kalinya menjadi Pelatih Terbaik Dunia Tahun 2010. Pria kelahiran Setuba, Portugal berhasil mengumpulkan 294 suara pada pemilihan yang dilakukan oleh International Federation of Football and Statistik. Sebelumnya ia terpilih sebagai pelatih terbaik dunia pada tahun 2004 dan 2005.
Nama-nama tenar lainya yang masuk dalam 10 besar pelatih terbaik dunia tahun 2010 sebagian besar didominasi para pelatih dari daratan Eropa seperti Josep Guardiola, Van Gaal, Sir Alex Ferguson, Arsene Wenger, Carlo Ancelloti dan Roy Hodgson. Sedangkan dari Amerika Latin hanya 1 orang yaitu Celso Juares Roth (Brasil), pelatih klub SC Internacional Porto Alegre yang menempati posisi ke-8 dengan 20 suara. Afrikapun hanya diwakili oleh 1 orang pelatih yaitu Lamine N’Diaye di peringkat 10 dengan 11 suara. Lamine berhasil masuk dalam 10 besar setelah keberhasilanya mengantarkan TP Mazembe menjadi Runer Up Piala Dunia Antar Klub Tahun 2010. Sedangkan pelatih – pelatih terbaik dari benua Asia terlempar dari posisi 10 besar mereka adalah Tae Yong Shin (Korea Selatan) yang melatih klub Seongnam Ilhwa Chunma dan manour Ebrahimzadeh (Iran) yang melatih klub Zabohan,Isfahan masing-masing dengan 5 suara dan menempati peringkat 16 besar.
Berikut ini adalah daftar 1o Pelatih Terbaik Dunia Tahun 2010 versi IFFHS:
Jose Maurinho (294 suara). Asal Portugal, klub Inter Milan/Real Madrid.
Joseph Guardiola (188 suara). Asal Spanyol. Klub FC. Barcelona (Spanyol).
Louis Van Gaal (75 suara). Asal Belanda, klub Bayern Muenchen (Jerman).
Quique Sanches Flores (45 suara). Asal Spanyol, klub Atletico Madrid (Spanyol).
Carlo Ancelloti (41 suara). Asal Italia, klub Chelsea (Inggris).
Sir Alex Ferguson (38 suara). Asal Skotlandia, klub Manchester United (Inggris).
Arsene Wenger (33 suara). Asal Prancis, klub Arsenal (Inggris).
Celso Juares Roth (24 suara ). Asal Brasil, klub SC Internacional Porto-Alegre (Brasil).
Roy Hogson (20 suara). Asal Inggris, klub Fulham dan Liverpool (Inggris).
Lamine NDiaye (11 suara). Asal Senegal, klub TP Mazembe (Senegal).
10 KIPER TERBAIK DUNIA SEPANJANG MASA
27Feb10
Quantcast
Berikut daftar 1o kiper terbaik yang pernah ada sepanjang masa….
Gordon Banks (Inggris)
Banks menjadi pilihan pertama manajer Inggris Sir Alf Ramsey saat Three Lions menjuarai Piala Dunia 1966. Namun, ia baru menjadi legenda di dunia sepakbola lewat tindakan yang dilakukannya empat tahun kemudian di Piala Dunia Meksiko. Saat Inggris bertanding melawan Brasil, Pele menanduk bola ke tiang jauh gawang Inggris sambil berteriak “Gol!”. Hal itu dilakukannya karena ia sangat yakin Banks tidak dapat menyelamatkan gawangnya. Tetapi Banks yang berada dalam posisi yang salah, berhasil melompat ke arah yang berlawanan dan menyentuh bola tersebut dengan sebagian ibu jarinya hingga bola itu mental melewati mistar gawang. Sang kiper tahu ia dapat menyentuh bola, namun berpikir bolanya masih melewati garis gawang. Ia baru sadar tidak terjadi gol setelah mendengar sambutan dari penonton di stadion dan diselamati oleh kapten Bobby Moore. Pele sendiri mengatakan kalau penyelamatan yang dilakukan Banks tersebut adalah yang terhebat yang pernah ia saksikan.
Edwin van der Sar (Belanda)
Saat van der Sar memblok tendangan Nicolas Anelka di final Liga Champions, ia benar-benar menjadi momok bagi pemain Chelsea saat adu penalti. Hal itu karena di ajang Community Shield sebelumnya, ia juga telah melakukan hal yang sama dengan menepis semua tendangan penalti yang dilakukan pemain The Blues. Van der Sar menjadi pemain yang paling banyak membela tim nasional Belanda dengan tampil sebanyak 128 kali dan akhirnya pensiun setelah Euro 2008. Ia juga mencatatkan dirinya sebagai kiper yang menjuarai Liga Champions bersama dua klub yang berbeda, yaitu Ajax Amsterdam dan Manchester United.
Dida (Brasil)
Setelah Claudio Taffarel, Dida menjadi kiper baru asal Brasil yang diperhitungkan dalam dunia sepakbola. Hal itu terbukti saat dirinya menjadi kiper pertama dari tim Samba yang termasuk dalam kandidat peraih Ballon d’Or di tahun 2003 dan 2005. Biarpun Dida telah memenangkan Piala Dunia bersama Brasil, dan berbagai gelar domestik & internasional bersama AC Milan, sayangnya ia juga dikenal akibat beberapa insiden yang kurang baik. Yang terakhir adalah saat ia pura-pura jatuh dan terluka saat disentuh oleh seorang suporter Glasgow Celtic di pertandingan Liga Champions.
Petr Cech (Republik Ceko)
Ketika Chelsea menjadi juara Liga Primer selama dua kali berturut-turut, banyak pihak menganggap itu adalah akibat dari tangan dingin Jose Mourinho. Tetapi yang berada di bawah mistar The Blues adalah Cech, yang baru dibeli dari Rennes dan tadinya akan dijadikan cadangan Carlo Cudicini. Saat Cech harus absen selama tiga bulan akibat benturan dengan pemain Reading Stephen Hunt, Chelsea gagal mempertahankan gelar Liga Primer. Insiden tersebut membuat Cech harus mengenakan pelindung kepala hingga sekarang. Cech menjadi kiper terbaik 2008 pilihan UEFA, dan walaupun sempat membuat blunder di Euro 2008 saat melawan Turki, ia tetap menjadi pilihan pertama di tim nasional Republik Ceko dan juga Stamford Bridge.
Dino Zoff (Italia)
Piala Dunia 1982 menjadi puncak prestasi Zoff. Di usianya yang ke-40, ia menjadi pemain tertua yang memenangkan Piala Dunia. Selain itu, ia juga menjadi kiper kedua yang menjadi kapten di tim yang juara, dan juga terpilih menjadi kiper terbaik. Padahal di awal karirnya, ia sempat ditolak oleh Inter Milan dan Juventus karena dianggap kurang tinggi. Di jajak pendapat untuk mencari kiper terbaik di abad ke-20 yang dilaksanakan oleh Federasi Internasional Statistik dan Sejarah Sepakbola (IFFHS), Zoff berada di posisi ketiga di bawah Lev Yashin (Uni Soviet) dan Gordon Banks (Inggris).
Gianluigi Buffon (Italia)
Nilai transfer yang menjadikannya kiper termahal di dunia menjadi bukti kepiawaian Buffon (foto) menjaga gawang di lapangan hijau. Selain itu, sederet gelar individual yang diraihnya dari berbagai pihak juga menjadi jaminan atas kemampuannya. Saat di Piala Dunia 2006, gawangnya tidak tertembus satu gol pun selama 453 menit hingga akhirnya Azzurri menjadi juara dan Buffon mendapatkan Lev Yashin Award sebagai kiper terbaik selama turnamen tersebut.
Iker Casillas (Spanyol)
Ia baru berusia 27 tahun, tetapi telah tampil lebih dari 300 kali bagi Real Madrid dan menjadi kiper kedua yang bermain paling banyak bagi tim nasional Spanyol setelah Andoni Zubizarreta. Saat Spanyol menjuarai Euro 2008, Casillas menjadi kiper pertama yang menjadi kapten di tim juara turnamen Eropa. Walaupun ia baru bermain di tim senior Madrid sejak 1999, ia kelihatannya selalu menjadi pilihan pertama Los Merengues di bawah mistar. Di usianya yang ke-19, Casillas menjadi kiper paling muda yang tampil di final Liga Champions saat Madrid mengalahkan Valencis 3-0.
Lev Yashin (Uni Soviet)
Pemain legendaris ini merupakan kiper yang berada di urutan paling atas dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh IFFHS. Yashin terpilih berkat kemampuan atletisnya dan juga postur tubuhnya yang membuat gentar para pemain penyerang lawan.
Ia mendapat julukan Laba-Laba Hitam karena selalu mengenakan kostum hitam dan juga karena keahliannya menepis tembakan lawan seolah-olah membuatnya memiliki delapan tangan. Pemakaian namanya oleh FIFA untuk penghargaan bagi kiper terbaik di setiap Piala Dunia merupakan pengakuan insan sepakbola dunia terhadap prestasinya.
Peter Schmeichel (Denmark)
Tinggi besar, rambut pirang, dan hidung merah. Tiga hal tersebut adalah hal yang selalu tampil di ingatan bila nama Schmeichel disebut. Namun bagi para striker yang menjadi lawan Manchester United dan tim nasional Denmark, The Great Dane itu menjadi tembok raksasa yang tak dapat ditembus. Tingkat refleksnya yang mengagumkan bagi orang seukuran dia, serta kemampuannya mengubah pertahanan menjadi penyerangan langsung lewat lemparan jauhnya ke para penyerang, menjadi salah satu alasan utama mengapa United menjadi tim yang mendominasi Liga Primer Inggris di era 90an.
Rinat Dasayev (Uni Soviet)
Bila tidak ada trio Belanda Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten, bisa jadi tim Uni Soviet yang akan menjadi juara di Euro 1988. Dasayev tampil cemerlang selama berlangsungnya turnamen di Jerman, dan hanya Gullit dan tendangan volley van Basten yang mampu mematahkan perlawanan Soviet di final.
Dasayev yang dijuluki “Tirai Besi” dianggap sebagai kiper terbaik kedua di Rusia setelah Yashin. Ia tampil di tiga Piala Dunia dan bermain sebanyak 91 kali bagi tim nasional Soviet hingga pensiun di tahun 1990 .Terakhir ia tampil di Luzhniki Stadium saat final Liga Champions Mei lalu dengan membawa piala tersebut ke lapangan. Hal itu berkaitan dengan tugasnya sebagai duta final itu di Moskwa.
27Feb10
Quantcast
Berikut daftar 1o kiper terbaik yang pernah ada sepanjang masa….
Gordon Banks (Inggris)
Banks menjadi pilihan pertama manajer Inggris Sir Alf Ramsey saat Three Lions menjuarai Piala Dunia 1966. Namun, ia baru menjadi legenda di dunia sepakbola lewat tindakan yang dilakukannya empat tahun kemudian di Piala Dunia Meksiko. Saat Inggris bertanding melawan Brasil, Pele menanduk bola ke tiang jauh gawang Inggris sambil berteriak “Gol!”. Hal itu dilakukannya karena ia sangat yakin Banks tidak dapat menyelamatkan gawangnya. Tetapi Banks yang berada dalam posisi yang salah, berhasil melompat ke arah yang berlawanan dan menyentuh bola tersebut dengan sebagian ibu jarinya hingga bola itu mental melewati mistar gawang. Sang kiper tahu ia dapat menyentuh bola, namun berpikir bolanya masih melewati garis gawang. Ia baru sadar tidak terjadi gol setelah mendengar sambutan dari penonton di stadion dan diselamati oleh kapten Bobby Moore. Pele sendiri mengatakan kalau penyelamatan yang dilakukan Banks tersebut adalah yang terhebat yang pernah ia saksikan.
Edwin van der Sar (Belanda)
Saat van der Sar memblok tendangan Nicolas Anelka di final Liga Champions, ia benar-benar menjadi momok bagi pemain Chelsea saat adu penalti. Hal itu karena di ajang Community Shield sebelumnya, ia juga telah melakukan hal yang sama dengan menepis semua tendangan penalti yang dilakukan pemain The Blues. Van der Sar menjadi pemain yang paling banyak membela tim nasional Belanda dengan tampil sebanyak 128 kali dan akhirnya pensiun setelah Euro 2008. Ia juga mencatatkan dirinya sebagai kiper yang menjuarai Liga Champions bersama dua klub yang berbeda, yaitu Ajax Amsterdam dan Manchester United.
Dida (Brasil)
Setelah Claudio Taffarel, Dida menjadi kiper baru asal Brasil yang diperhitungkan dalam dunia sepakbola. Hal itu terbukti saat dirinya menjadi kiper pertama dari tim Samba yang termasuk dalam kandidat peraih Ballon d’Or di tahun 2003 dan 2005. Biarpun Dida telah memenangkan Piala Dunia bersama Brasil, dan berbagai gelar domestik & internasional bersama AC Milan, sayangnya ia juga dikenal akibat beberapa insiden yang kurang baik. Yang terakhir adalah saat ia pura-pura jatuh dan terluka saat disentuh oleh seorang suporter Glasgow Celtic di pertandingan Liga Champions.
Petr Cech (Republik Ceko)
Ketika Chelsea menjadi juara Liga Primer selama dua kali berturut-turut, banyak pihak menganggap itu adalah akibat dari tangan dingin Jose Mourinho. Tetapi yang berada di bawah mistar The Blues adalah Cech, yang baru dibeli dari Rennes dan tadinya akan dijadikan cadangan Carlo Cudicini. Saat Cech harus absen selama tiga bulan akibat benturan dengan pemain Reading Stephen Hunt, Chelsea gagal mempertahankan gelar Liga Primer. Insiden tersebut membuat Cech harus mengenakan pelindung kepala hingga sekarang. Cech menjadi kiper terbaik 2008 pilihan UEFA, dan walaupun sempat membuat blunder di Euro 2008 saat melawan Turki, ia tetap menjadi pilihan pertama di tim nasional Republik Ceko dan juga Stamford Bridge.
Dino Zoff (Italia)
Piala Dunia 1982 menjadi puncak prestasi Zoff. Di usianya yang ke-40, ia menjadi pemain tertua yang memenangkan Piala Dunia. Selain itu, ia juga menjadi kiper kedua yang menjadi kapten di tim yang juara, dan juga terpilih menjadi kiper terbaik. Padahal di awal karirnya, ia sempat ditolak oleh Inter Milan dan Juventus karena dianggap kurang tinggi. Di jajak pendapat untuk mencari kiper terbaik di abad ke-20 yang dilaksanakan oleh Federasi Internasional Statistik dan Sejarah Sepakbola (IFFHS), Zoff berada di posisi ketiga di bawah Lev Yashin (Uni Soviet) dan Gordon Banks (Inggris).
Gianluigi Buffon (Italia)
Nilai transfer yang menjadikannya kiper termahal di dunia menjadi bukti kepiawaian Buffon (foto) menjaga gawang di lapangan hijau. Selain itu, sederet gelar individual yang diraihnya dari berbagai pihak juga menjadi jaminan atas kemampuannya. Saat di Piala Dunia 2006, gawangnya tidak tertembus satu gol pun selama 453 menit hingga akhirnya Azzurri menjadi juara dan Buffon mendapatkan Lev Yashin Award sebagai kiper terbaik selama turnamen tersebut.
Iker Casillas (Spanyol)
Ia baru berusia 27 tahun, tetapi telah tampil lebih dari 300 kali bagi Real Madrid dan menjadi kiper kedua yang bermain paling banyak bagi tim nasional Spanyol setelah Andoni Zubizarreta. Saat Spanyol menjuarai Euro 2008, Casillas menjadi kiper pertama yang menjadi kapten di tim juara turnamen Eropa. Walaupun ia baru bermain di tim senior Madrid sejak 1999, ia kelihatannya selalu menjadi pilihan pertama Los Merengues di bawah mistar. Di usianya yang ke-19, Casillas menjadi kiper paling muda yang tampil di final Liga Champions saat Madrid mengalahkan Valencis 3-0.
Lev Yashin (Uni Soviet)
Pemain legendaris ini merupakan kiper yang berada di urutan paling atas dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh IFFHS. Yashin terpilih berkat kemampuan atletisnya dan juga postur tubuhnya yang membuat gentar para pemain penyerang lawan.
Ia mendapat julukan Laba-Laba Hitam karena selalu mengenakan kostum hitam dan juga karena keahliannya menepis tembakan lawan seolah-olah membuatnya memiliki delapan tangan. Pemakaian namanya oleh FIFA untuk penghargaan bagi kiper terbaik di setiap Piala Dunia merupakan pengakuan insan sepakbola dunia terhadap prestasinya.
Peter Schmeichel (Denmark)
Tinggi besar, rambut pirang, dan hidung merah. Tiga hal tersebut adalah hal yang selalu tampil di ingatan bila nama Schmeichel disebut. Namun bagi para striker yang menjadi lawan Manchester United dan tim nasional Denmark, The Great Dane itu menjadi tembok raksasa yang tak dapat ditembus. Tingkat refleksnya yang mengagumkan bagi orang seukuran dia, serta kemampuannya mengubah pertahanan menjadi penyerangan langsung lewat lemparan jauhnya ke para penyerang, menjadi salah satu alasan utama mengapa United menjadi tim yang mendominasi Liga Primer Inggris di era 90an.
Rinat Dasayev (Uni Soviet)
Bila tidak ada trio Belanda Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten, bisa jadi tim Uni Soviet yang akan menjadi juara di Euro 1988. Dasayev tampil cemerlang selama berlangsungnya turnamen di Jerman, dan hanya Gullit dan tendangan volley van Basten yang mampu mematahkan perlawanan Soviet di final.
Dasayev yang dijuluki “Tirai Besi” dianggap sebagai kiper terbaik kedua di Rusia setelah Yashin. Ia tampil di tiga Piala Dunia dan bermain sebanyak 91 kali bagi tim nasional Soviet hingga pensiun di tahun 1990 .Terakhir ia tampil di Luzhniki Stadium saat final Liga Champions Mei lalu dengan membawa piala tersebut ke lapangan. Hal itu berkaitan dengan tugasnya sebagai duta final itu di Moskwa.
Langganan:
Komentar (Atom)












